Cara Kerja QRIS dan Keuntungannya untuk UMKM: Panduan Lengkap yang Mudah Dipahami
![]() |
| Ilustrasi QRIS |
Makro - QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard adalah standar QR Code pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia untuk memfasilitasi transaksi di Indonesia. BI menjelaskan bahwa QRIS dikembangkan bersama industri sistem pembayaran agar transaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal, atau biasa disingkat CEMUMUAH. Semua Penyedia Jasa Pembayaran yang menggunakan QR Code pembayaran wajib menerapkan QRIS.
Bagi UMKM, QRIS bukan hanya alat untuk menerima pembayaran non-tunai. BI menempatkan QRIS sebagai entry point ke ekosistem digital bagi UMKM untuk mendorong inklusi ekonomi dan keuangan. Artinya, QRIS dipandang sebagai pintu masuk usaha kecil agar lebih mudah terhubung dengan pelanggan yang terbiasa memakai aplikasi pembayaran digital.
Perkembangan QRIS juga menunjukkan skala penggunaan yang sangat besar. Dalam siaran pers Bank Indonesia pada Agustus 2025, QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant pada semester I 2025, dengan 93,16 persen merchant di antaranya adalah UMKM. Pada periode yang sama, transaksi mencapai 6,05 miliar dengan nilai Rp579 triliun.
Cara Kerja QRIS dalam Transaksi Harian
Secara sederhana, QRIS bekerja dengan prinsip satu kode QR yang bisa dipakai oleh banyak aplikasi pembayaran. BI menjelaskan bahwa sebelum QRIS, pembayaran QR Code belum terstandarisasi sehingga aplikasi pembayaran hanya bisa dipakai pada merchant dari penyedia layanan yang sama. Setelah QRIS diterapkan, pengguna dari berbagai aplikasi bisa membayar di merchant mana pun yang memakai QRIS.
Dalam praktiknya, alur transaksi QRIS untuk UMKM sangat ringkas. Merchant mendaftar ke penyedia jasa pembayaran yang sudah terdaftar, menyerahkan data usaha, dan setelah verifikasi selesai, PSP akan menerbitkan Merchant ID serta kode QRIS. Kode itu kemudian digunakan untuk menerima pembayaran dari pelanggan. BI juga menyebut merchant akan mendapat edukasi tentang cara menerima dan mengelola pembayaran melalui QRIS.
Dari sisi pelanggan, prosesnya juga sederhana. Pengguna membuka aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS, memindai kode QR di merchant, memasukkan nominal jika diperlukan, lalu memasukkan PIN dan menekan tombol bayar. Setelah itu transaksi dikonfirmasi melalui notifikasi di aplikasi. BI menggambarkan mekanisme ini sebagai just scan and pay, yang membuat transaksi lebih praktis dan cepat.
Dua Model Utama QRIS: MPM dan CPM
Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS memiliki dua model pembayaran utama, yaitu Merchant Presented Mode atau MPM dan Consumer Presented Mode atau CPM. Pada MPM, merchant yang menampilkan QR Code untuk dipindai pelanggan. Pada CPM, pelanggan yang menampilkan QR Code dari ponselnya untuk dipindai merchant.
MPM adalah model yang paling sering ditemui pada UMKM, seperti warung, kafe, toko kelontong, barbershop, laundry, dan pedagang di pasar. Model ini juga terbagi menjadi static MPM dan dynamic MPM. Static MPM tidak memuat nominal transaksi, sehingga pelanggan perlu mengisi jumlah sendiri. Dynamic MPM sudah memuat nominal transaksi, sehingga pembayaran lebih cepat dan lebih kecil kemungkinan salah input.
CPM lebih cocok untuk merchant dengan transaksi cepat seperti transportasi, parkir, atau ritel modern. BI menyebut model ini dirancang agar pelanggan bisa memperlihatkan QR Code dari aplikasi mereka untuk dipindai merchant secara langsung.
Biaya QRIS untuk UMKM
Salah satu alasan QRIS cepat diterima pelaku usaha kecil adalah skema biayanya yang relatif ringan. BI menetapkan Merchant Discount Rate atau MDR untuk transaksi QRIS MPM dan CPM secara berbeda menurut kategori merchant. Untuk Usaha Mikro atau UMI, transaksi hingga Rp500.000 dikenakan MDR 0 persen, sedangkan transaksi di atas Rp500.000 dikenakan MDR 0,3 persen. Untuk Usaha Kecil, Menengah, dan Besar, MDR yang berlaku adalah 0,7 persen.
BI juga mengatur MDR khusus untuk sektor tertentu. Pendidikan dikenakan 0,6 persen, SPBU 0,4 persen, sementara BLU, PSO, G2P seperti bantuan sosial, P2G termasuk pajak dan paspor, serta donasi sosial nirlaba dikenakan 0 persen. Skema ini menunjukkan bahwa QRIS memang didesain untuk memperluas penggunaan pembayaran digital di banyak sektor dengan beban biaya yang tetap terukur.
Bagi UMKM, skema tersebut penting karena membuat pembayaran digital tidak terasa memberatkan. Di usaha mikro yang nilai transaksinya kecil, biaya rendah atau bahkan nol untuk transaksi tertentu membantu pelaku usaha tetap kompetitif sambil beralih ke sistem pembayaran nontunai.
Keuntungan QRIS bagi UMKM
Keuntungan paling nyata dari QRIS adalah kemudahan menerima pembayaran dari berbagai aplikasi sekaligus tanpa harus menyediakan banyak kode berbeda. BI menegaskan bahwa satu QRIS dapat menerima pembayaran dari berbagai instrumen pembayaran meskipun pelanggan memakai aplikasi yang berbeda. Bagi UMKM, hal ini mengurangi kerumitan operasional dan membuat kasir lebih sederhana.
Keuntungan kedua adalah peningkatan potensi penjualan. BI menyebut QRIS dapat berkontribusi pada penjualan yang lebih tinggi karena merchant menerima pembayaran berbasis QR. Dalam praktiknya, pelanggan yang tidak membawa uang tunai tetap bisa bertransaksi, sehingga peluang batal beli akibat kurang uang tunai menjadi lebih kecil.
Keuntungan ketiga adalah pengurangan biaya pengelolaan uang tunai. BI menjelaskan bahwa QRIS membantu mengurangi biaya pengelolaan cash, menghindari uang palsu, serta menghilangkan kebutuhan menyediakan uang kembalian. Untuk UMKM, ini sangat penting karena masalah uang kecil, selisih kas, dan repotnya menyediakan uang pecahan sering menjadi beban harian.
Keuntungan keempat adalah pencatatan transaksi yang lebih rapi. BI menyebut QRIS memungkinkan pencatatan otomatis dan pemantauan transaksi secara real time. Ini membantu pelaku usaha memisahkan keuangan bisnis dan keuangan pribadi, sekaligus memudahkan rekonsiliasi pembukuan. Untuk UMKM yang belum punya sistem akuntansi lengkap, fitur ini memberi dampak besar pada kerapian laporan keuangan.
Keuntungan kelima adalah dukungan terhadap keamanan dan pencegahan fraud. BI menilai QRIS aman karena semua penyedia jasa pembayaran yang menerapkan QRIS berada di bawah izin dan pengawasan Bank Indonesia. Dari sisi merchant, transaksi yang terekam digital juga memudahkan penelusuran jika terjadi masalah pembayaran.
Keuntungan keenam adalah peluang membangun profil kredit. BI secara eksplisit menyebut bahwa transaksi QRIS dapat membantu membangun credit profile untuk membuka akses pembiayaan di masa depan. Ini relevan bagi UMKM karena riwayat transaksi digital yang rapi dapat menjadi jejak usaha yang lebih meyakinkan ketika mengajukan pembiayaan formal.
Mengapa QRIS Penting untuk UMKM yang Ingin Naik Kelas
UMKM sering menghadapi tantangan yang sama: arus kas tidak stabil, pencatatan manual, pelanggan beragam, dan akses pembiayaan yang terbatas. QRIS membantu menjawab sebagian masalah itu dengan satu alat yang sederhana. BI juga menempatkan QRIS sebagai solusi yang mendorong inklusi dan konektivitas pembayaran lintas negara, sehingga perannya tidak berhenti pada transaksi domestik.
Di sisi pemasaran, QRIS juga memberi kesan usaha yang lebih modern. BI menyebut QRIS membuat merchant terlihat lebih modern, praktis, dan universal. Bagi usaha kecil yang ingin terlihat profesional di mata pelanggan, terutama generasi muda yang lebih sering memakai e-wallet dan mobile banking, QRIS bisa menjadi nilai tambah yang cukup besar.
Untuk usaha makanan dan minuman, ritel, jasa harian, atau penjualan berbasis lokasi, QRIS juga membantu mempercepat antrean. Pelanggan cukup memindai kode dan menyelesaikan pembayaran dalam hitungan detik. Di jam ramai, efisiensi kecil seperti ini bisa berdampak langsung pada kelancaran operasional.
Tantangan yang Tetap Perlu Diperhatikan
Walau sangat berguna, QRIS bukan tanpa tantangan. UMKM tetap perlu memastikan koneksi internet, perangkat pembayaran, dan pencatatan transaksi dijaga dengan baik. Jika merchant memakai dynamic QRIS, sistem operasional harus rapi agar nominal yang tampil selalu sesuai transaksi. Jika memakai static QRIS, penjual perlu lebih teliti karena pelanggan harus menginput nominal sendiri. Penjelasan BI tentang dua model ini penting karena kesalahan kecil pada proses input bisa menimbulkan selisih transaksi.
Tantangan lain adalah literasi digital. Tidak semua pelaku UMKM langsung paham cara registrasi, cara membaca notifikasi, atau cara menyusun rekonsiliasi sederhana dari transaksi harian. Karena itu, edukasi merchant dari penyedia jasa pembayaran menjadi bagian penting dalam implementasi QRIS yang sehat. BI juga memang menyebut PSP wajib memberikan edukasi kepada merchant mengenai prosedur penerimaan dan pengelolaan pembayaran QRIS.
Langkah Praktis Agar UMKM Maksimal Memakai QRIS
Agar manfaat QRIS terasa maksimal, UMKM sebaiknya memilih model QRIS sesuai kebutuhan usaha. Untuk usaha sederhana dan transaksi cepat, static QRIS sudah cukup. Untuk usaha dengan nominal yang sering berubah, dynamic QRIS lebih efisien karena nominal langsung muncul di layar pelanggan. Pemilihan model ini selaras dengan penjelasan BI tentang dua bentuk MPM.
UMKM juga sebaiknya rutin mencocokkan notifikasi transaksi dengan buku kas harian. Karena BI menekankan QRIS sebagai alat pencatat transaksi otomatis, penggunaan yang disiplin akan membuat data keuangan jauh lebih berguna, baik untuk stok, laba, maupun pengajuan pembiayaan.
Hal lain yang penting adalah menjaga tampilan QRIS tetap jelas, bersih, dan mudah dipindai. Untuk usaha yang ramai, kode QR sebaiknya ditempatkan di titik yang mudah terlihat pelanggan. Prinsip sederhananya adalah: semakin mudah pelanggan menemukan dan memindai QR, semakin besar peluang transaksi selesai tanpa hambatan.
Kesimpulan
QRIS bukan sekadar alat bayar digital, melainkan infrastruktur penting yang membantu UMKM masuk ke ekosistem ekonomi digital. Bank Indonesia menegaskan bahwa QRIS dirancang agar transaksi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal, sekaligus menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan inklusi keuangan.
Bagi pelaku UMKM, keuntungan QRIS sangat nyata: transaksi lebih praktis, potensi penjualan meningkat, pengelolaan uang tunai berkurang, pencatatan lebih rapi, risiko uang palsu menurun, dan peluang membangun profil kredit jadi lebih terbuka. Dengan skema MDR yang relatif ringan dan dukungan ekosistem yang terus berkembang, QRIS menjadi salah satu alat digital paling relevan untuk usaha kecil pada 2026.


Posting Komentar