Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga dan Siapkan Intervensi
![]() |
| Pelemahan Rupiah |
Makro - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pekan terakhir Mei 2026. Pada perdagangan Senin (25/5/2026), rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS dan menjadi salah satu level terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, hingga keluarnya aliran modal asing dari pasar negara berkembang. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) merespons kondisi tersebut dengan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam perdagangan beberapa hari terakhir, rupiah terus bergerak melemah terhadap mata uang dolar AS. Bahkan pada Selasa (19/5/2026), kurs rupiah sempat berada di level Rp17.754 per dolar AS berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia.
Sementara pada Senin pagi (25/5/2026), nilai tukar rupiah kembali dibuka di kisaran Rp17.721 per dolar AS.
“Rupiah belum banyak bergerak pagi ini dan berada di level Rp17.721 per dolar AS,” tulis laporan Metro TV News pada Senin (25/5/2026).
Pelemahan tersebut membuat rupiah mendekati level psikologis yang sebelumnya pernah terjadi saat krisis ekonomi.
Menghadapi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia akhirnya mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Selasa (20/5/2026). Langkah ini menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir.
Gubernur Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi.
“Keputusan ini bertujuan menjaga stabilitas rupiah,” ujar Perry Warjiyo pada Rabu (20/5/2026).
Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat intervensi pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).
Sejumlah ekonom menilai perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor eksternal utama yang menekan rupiah.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kenaikan harga minyak dunia dan membuat investor global mencari aset aman seperti dolar AS.
“Konflik Timur Tengah meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” jelas laporan Reuters pada Selasa (20/5/2026).
Akibatnya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa bulan terakhir.
Selain faktor global, pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia dan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Beberapa analis menyebut investor masih menunggu kepastian terkait pengelolaan APBN, subsidi energi, hingga independensi bank sentral.
“Investor mempertanyakan kemampuan fiskal pemerintah menahan gejolak ekonomi,” tulis laporan Kompas TV pada Senin (12/5/2026).
Ketidakpastian tersebut membuat arus modal asing keluar dari pasar domestik.
Pelemahan rupiah juga dipicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Bank Indonesia mencatat permintaan dolar AS meningkat tajam akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, hingga kebutuhan perjalanan haji masyarakat Indonesia.
“Permintaan dolar meningkat karena pembayaran utang dan repatriasi dividen,” ujar Perry Warjiyo.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar di pasar valuta asing.
Untuk memperkuat rupiah, pemerintah juga menyiapkan aturan baru terkait devisa hasil ekspor sumber daya alam.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta pelaku pasar dan eksportir mulai menempatkan devisa ekspor di perbankan nasional.
“Eksportir diminta menyimpan devisa di bank dalam negeri,” tulis laporan Reuters pada Kamis (22/5/2026).
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa dan menambah pasokan dolar di pasar domestik.
Sejumlah pengamat memperingatkan rupiah masih berpotensi melemah jika ketidakpastian global terus berlanjut.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi bahkan memprediksi rupiah dapat menyentuh level lebih dalam apabila konflik geopolitik memburuk.
“Rupiah berisiko terus melemah akibat tekanan global,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam analisanya pada Jumat (15/5/2026).
Meski demikian, sebagian ekonom menilai langkah BI menaikkan suku bunga dapat membantu meredam tekanan jangka pendek.
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga kehidupan masyarakat sehari-hari.
Harga barang impor, elektronik, bahan baku industri, hingga biaya transportasi udara berpotensi meningkat jika nilai tukar terus melemah.
“Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang,” tulis laporan Detik Sumut terkait dampak ekonomi pelemahan rupiah.
Sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor juga diperkirakan mengalami tekanan biaya produksi.
Meski berada dalam tekanan, Bank Indonesia tetap optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil dalam beberapa bulan mendatang.
BI memperkirakan aliran modal asing akan mulai masuk kembali setelah kondisi global mereda dan kebijakan moneter berjalan efektif.
“Kami optimistis rupiah akan membaik secara bertahap,” ujar Perry Warjiyo.
Bank sentral juga memastikan akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS hingga menyentuh kisaran Rp17.700 pada perdagangan Mei 2026. Pelemahan tersebut dipicu kombinasi faktor global seperti konflik Timur Tengah dan penguatan dolar AS, serta faktor domestik berupa kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Untuk meredam tekanan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen dan memperkuat intervensi pasar. Pemerintah juga menyiapkan kebijakan devisa ekspor guna menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.


Posting Komentar