Iran Siap Buka Akses Selat Hormuz dengan Syarat Usir Dubes AS dan Israel
![]() |
| Selat Hormuz |
sepintasnews.web.id - Iran kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah mengumumkan kebijakan baru terkait jalur pelayaran strategis di Timur Tengah. Pemerintah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam menyatakan akan memberikan akses bebas melintasi Selat Hormuz bagi negara-negara tertentu dengan syarat diplomatik yang tegas.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran pada Senin (9/3/2026) melalui siaran televisi pemerintah Iran. Dalam pernyataan tersebut, Iran menawarkan kebebasan navigasi bagi negara Arab atau Eropa yang bersedia mengusir duta besar dari Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diplomatik Iran di tengah meningkatnya konflik dengan kedua negara tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi negara Iran, Garda Revolusi menyebut negara yang memenuhi syarat tersebut akan mendapatkan kebebasan penuh untuk melintasi Selat Hormuz mulai keesokan harinya.
Selat tersebut sebelumnya mengalami gangguan aktivitas pelayaran setelah konflik militer meningkat antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Setiap negara Arab atau Eropa yang mengusir duta besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan penuh untuk melintasi Selat Hormuz,” ujar pernyataan Korps Garda Revolusi Iran.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran mengaitkan keamanan jalur pelayaran dengan sikap diplomatik negara lain.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan udara besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Jumat (28/2/2026). Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target militer di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut menyebabkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu secara signifikan. Banyak kapal tanker dan kapal dagang memilih menunda perjalanan karena meningkatnya risiko keamanan.
“Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik geopolitik di Timur Tengah,” ujar Farid Rahman, analis keamanan maritim internasional.
Menurutnya, setiap kebijakan Iran terkait selat tersebut akan berdampak luas pada perdagangan global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global ini menjadi jalur utama distribusi minyak dari negara-negara Timur Tengah.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap harinya.
Gangguan yang terjadi di selat ini dalam beberapa hari terakhir bahkan membuat lalu lintas kapal tanker menurun drastis.
“Jika Selat Hormuz terganggu, pasar energi global akan langsung merespons,” tegas Michael Tan, analis energi global.
Ia menilai stabilitas jalur pelayaran ini sangat penting bagi ekonomi dunia.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah memberikan peringatan keras kepada Iran terkait potensi gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan meningkatkan serangan militer jika Iran menghalangi aliran minyak dunia melalui jalur tersebut.
“Amerika Serikat tidak akan membiarkan jalur energi global diganggu,” ujar seorang pejabat keamanan nasional AS.
Pernyataan tersebut menunjukkan tingginya ketegangan antara kedua negara.
Sejumlah pengamat menilai kebijakan Iran ini merupakan upaya untuk menekan negara-negara lain agar mengambil sikap diplomatik terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Dengan mengaitkan keamanan jalur pelayaran dengan kebijakan diplomatik negara lain, Iran dinilai mencoba memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz.
“Iran sedang menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik,” ungkap Lina Putri, analis hubungan internasional.
Menurutnya, negara-negara yang bergantung pada impor energi akan menghadapi dilema politik yang cukup besar.
Ketegangan di Selat Hormuz juga berdampak langsung terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia sempat melonjak tajam karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Gangguan produksi dan distribusi energi di kawasan Timur Tengah semakin memperbesar ketidakpastian pasar.
“Pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko geopolitik di Selat Hormuz,” tutur Bhima Yudhistira, ekonom energi.
Ia memperkirakan volatilitas harga minyak akan terus terjadi jika konflik belum mereda.
Pengumuman Iran untuk membuka akses Selat Hormuz dengan syarat pengusiran duta besar Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bagaimana jalur pelayaran strategis dapat menjadi alat tekanan geopolitik. Kebijakan tersebut muncul di tengah konflik militer yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia, setiap keputusan terkait wilayah tersebut memiliki dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global. Dunia kini menunggu bagaimana negara-negara lain merespons tawaran diplomatik dari Teheran.
