Damkar Surabaya Evakuasi Pria Berbobot 400 Kg dari Gang Sempit, Proses Dramatis Berlangsung Lebih dari Satu Jam
![]() |
| Damkar Surabaya Evakuasi Pria Berbobot 400 Kg (Foto: DPKP Surabaya) |
Surabaya - Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya melakukan evakuasi terhadap seorang pria bernama M Sarif (23) yang mengalami kesulitan bernapas dari rumahnya di kawasan Jalan Brawijaya Gang Kedurus, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Evakuasi tersebut menarik perhatian warga karena kondisi lokasi yang cukup sulit dijangkau. Rumah pasien berada di dalam gang sempit dengan lebar sekitar 80 sentimeter, sehingga membutuhkan penanganan khusus dari petugas gabungan.
Sebelumnya sempat beredar informasi di media sosial yang menyebut berat badan Sarif mencapai 400 kilogram. Namun berdasarkan keterangan keluarga dan sejumlah laporan lapangan, berat badan pemuda tersebut sekitar 150 kilogram.
Setelah berhasil dievakuasi, Sarif langsung dibawa menuju RSUD Soewandhie Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Menurut keterangan ibunya, Turiyah, kondisi kesehatan Sarif mulai mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir.
Awalnya, Sarif mengalami demam dan batuk berkepanjangan. Seiring waktu, keluhan tersebut berkembang menjadi gangguan pernapasan yang semakin berat hingga akhirnya keluarga memutuskan meminta bantuan petugas untuk membawa Sarif ke rumah sakit.
"Dalam dua bulan terakhir dia mengalami demam dan batuk. Setelah itu mulai muncul sesak napas. Memang ada hernia juga," ujar Turiyah.
Kondisi tersebut membuat aktivitas Sarif menjadi sangat terbatas dan membutuhkan pengawasan keluarga secara intensif.
Keluarga mengaku khawatir karena gejala yang dialami terus memburuk dari hari ke hari.
Petugas Damkar Surabaya menghadapi tantangan cukup besar saat melakukan evakuasi.
Selain berat badan pasien yang mencapai sekitar 150 kilogram, akses menuju rumah juga sangat terbatas.
Gang selebar 80 sentimeter membuat petugas harus menyusun strategi khusus agar proses pemindahan pasien dapat dilakukan dengan aman.
Dalam sejumlah kasus darurat serupa, petugas penyelamat biasanya menggunakan tandu khusus dan melibatkan banyak personel untuk memastikan keselamatan pasien selama proses pemindahan.
Kondisi lingkungan permukiman padat penduduk sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam proses evakuasi medis.
Meski demikian, petugas berhasil membawa Sarif keluar dari rumahnya dan memindahkannya ke kendaraan yang telah disiapkan menuju rumah sakit.
Keberhasilan evakuasi tersebut mendapat apresiasi dari warga sekitar yang turut membantu kelancaran proses penyelamatan.
Setibanya di rumah sakit, tim medis segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi pasien.
Turiyah menjelaskan bahwa dokter menemukan adanya pembengkakan pada bagian jantung yang diduga berkaitan dengan kondisi kesehatan yang sedang dialami putranya.
"Dokter sudah menangani. Jantungnya mengalami pembengkakan," ujar Turiyah.
Hingga kini Sarif masih menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Soewandhie Surabaya.
Tim medis terus memantau perkembangan kondisinya untuk memastikan fungsi pernapasan dan organ vital tetap stabil.
Setelah mendapatkan bantuan oksigen dan perawatan medis intensif, kondisi Sarif dilaporkan mulai menunjukkan perbaikan.
Meski masih merasakan sesak napas, keluhan tersebut tidak lagi seberat saat pertama kali dibawa ke rumah sakit.
"Sesaknya masih ada, tetapi sudah ada perbaikan. Sejak siang tadi dokter langsung menangani dan napasnya terasa lebih ringan," ujar Turiyah.
Perkembangan tersebut memberikan harapan bagi keluarga bahwa kondisi Sarif dapat berangsur membaik dalam beberapa hari ke depan.
Namun dokter tetap melakukan pengawasan ketat mengingat kondisi pasien masih tergolong serius.
Keluarga menyebut Sarif memiliki riwayat hernia yang diduga ikut memengaruhi kondisi kesehatannya.
Dalam dunia medis, hernia merupakan kondisi ketika organ atau jaringan tubuh menonjol melalui celah pada otot atau jaringan penyangga yang melemah.
Apabila tidak ditangani dengan baik, hernia dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang memengaruhi kualitas hidup pasien.
Selain itu, berat badan berlebih atau obesitas juga diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.
Kondisi obesitas dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sistem pernapasan, jantung, serta organ-organ vital lainnya.
Karena itu, pasien dengan berat badan tinggi sering membutuhkan pengawasan kesehatan yang lebih intensif.
Sebagai bagian dari penanganan medis, tim dokter juga menerapkan pengaturan asupan makanan bagi Sarif.
Menurut keluarga, pasien belum diperbolehkan mengonsumsi makanan seperti biasa sejak sebelum menjalani perawatan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan pengelolaan kondisi kesehatannya.
"Dia belum diberi makanan sejak kemarin sesuai arahan dokter. Tujuannya agar kondisi perutnya bisa lebih terkontrol karena berat badannya cukup tinggi," ujar Turiyah.
Pengaturan nutrisi menjadi salah satu aspek penting dalam penanganan pasien dengan obesitas dan gangguan kesehatan yang menyertainya.
Kasus yang dialami Sarif kembali mengingatkan pentingnya perhatian terhadap masalah obesitas di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah masyarakat yang mengalami kelebihan berat badan terus mengalami peningkatan.
Menurut berbagai penelitian kesehatan, obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, hipertensi, gangguan pernapasan, hingga penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih kompleks.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan berkala untuk mencegah komplikasi akibat obesitas.
Kasus evakuasi Sarif juga menunjukkan bahwa peran petugas pemadam kebakaran saat ini tidak hanya terbatas pada penanganan kebakaran.
Di berbagai daerah, Damkar sering dilibatkan dalam operasi penyelamatan, evakuasi medis, kecelakaan, hingga penanganan kondisi darurat lainnya.
Kemampuan personel Damkar dalam menangani situasi darurat menjadi faktor penting dalam membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan cepat.
Kolaborasi antara Damkar, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan proses penyelamatan seperti yang terjadi pada kasus Sarif.
Peristiwa ini juga menyoroti tantangan akses layanan darurat di kawasan permukiman padat penduduk.
Gang sempit yang hanya memiliki lebar sekitar 80 sentimeter membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.
Kondisi serupa masih ditemukan di banyak wilayah perkotaan di Indonesia.
Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat perlu terus memperhatikan aspek aksesibilitas lingkungan guna mendukung pelayanan darurat ketika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan cepat.
Keberadaan jalur yang memadai dapat membantu mempercepat respons petugas dan meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Evakuasi M Sarif (23) oleh petugas Damkar Surabaya pada Rabu (6/8/2025) menjadi perhatian publik karena dilakukan dari gang sempit dengan kondisi pasien mengalami sesak napas dan berat badan sekitar 150 kilogram. Setelah berhasil dibawa ke RSUD Soewandhie, Sarif kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU akibat gangguan pernapasan dan pembengkakan jantung yang masih dalam penanganan dokter. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan petugas penyelamat, tetapi juga menjadi pengingat akan risiko kesehatan yang dapat muncul akibat obesitas serta pentingnya akses layanan darurat di kawasan permukiman padat.


Posting Komentar