Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan

Sugiyanto, nelayan asal Indonesia di Korea Selatan, menjadi pahlawan setelah membantu menyelamatkan sekitar 60 warga saat kebakaran hutan melanda.
Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
Sugiyanto Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan (Foto: Media Sosial X)

YeongDeok - Kebakaran hutan besar yang melanda wilayah tenggara Korea Selatan pada Selasa (25/3/2025) menyisakan banyak kisah heroik. Salah satu yang paling menyita perhatian publik adalah aksi seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Sugiyanto yang membantu menyelamatkan puluhan warga lanjut usia dari ancaman kobaran api di Yeongdeok-gun, Provinsi Gyeongsang Utara.

Di tengah kepanikan warga akibat cepatnya penyebaran api yang dipicu angin kencang, Sugiyanto bersama Kepala Desa Yoo Myeong-shin berkeliling dari rumah ke rumah untuk membangunkan penduduk yang sedang tertidur dan mengarahkan mereka menuju lokasi evakuasi yang aman.

Aksi tersebut kemudian mendapat perhatian luas dari media Korea Selatan dan masyarakat setempat karena dinilai berkontribusi besar dalam mencegah jatuhnya korban jiwa di desa tersebut.

Kebakaran yang bermula dari wilayah Uiseong-gun berkembang menjadi salah satu bencana kebakaran hutan terbesar yang dihadapi Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut otoritas Korea Selatan, cuaca kering serta angin dengan kecepatan tinggi mempercepat penyebaran api ke sejumlah wilayah permukiman dan kawasan hutan di Provinsi Gyeongsang Utara.

Desa pesisir Chuksan-myeon di Yeongdeok menjadi salah satu wilayah yang terdampak serius.

Saat kobaran api semakin mendekati permukiman warga pada malam hari, banyak penduduk, khususnya lansia, masih berada di dalam rumah dan belum menyadari besarnya ancaman yang sedang mendekat.

Dalam situasi darurat tersebut, Sugiyanto yang bekerja sebagai nelayan di kawasan itu tidak menunggu instruksi resmi.

Bersama Kepala Desa Yoo Myeong-shin, ia langsung bergerak membangunkan warga yang masih tertidur.

Mereka berlari dari satu rumah ke rumah lainnya sambil memperingatkan penduduk agar segera meninggalkan rumah.

Sugiyanto bahkan harus berteriak keras untuk memastikan para lansia memahami situasi yang sedang terjadi.

"Nenek, ada api di gunung. Kita harus segera mengungsi," teriak Sugiyanto kepada sejumlah warga saat proses evakuasi berlangsung.

Kondisi malam yang gelap dan kepulan asap yang mulai memasuki area desa membuat proses penyelamatan berlangsung penuh risiko.

Tantangan terbesar bukan hanya datang dari kobaran api yang semakin dekat, tetapi juga kondisi geografis desa yang berbukit.

Sebagian besar penduduk di desa tersebut merupakan warga lanjut usia yang memiliki keterbatasan mobilitas.

Sugiyanto dan Kepala Desa Yoo harus membantu para lansia berjalan bahkan menggendong beberapa warga menuju lokasi yang lebih aman.

Mereka membawa warga menuju pemecah gelombang di kawasan pantai yang berjarak sekitar 300 meter dari permukiman.

Meski jarak tersebut tampak tidak terlalu jauh, medan menurun dan kondisi darurat membuat proses evakuasi menjadi sangat berat.

Salah satu warga berusia lebih dari 90 tahun mengaku tidak mengetahui adanya kebakaran sebelum mendengar teriakan Sugiyanto.

Menurutnya, tanpa tindakan cepat tersebut, kemungkinan besar banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri.

"Tanpa Sugiyanto, kami mungkin sudah meninggal. Saya sedang tertidur dan baru sadar setelah mendengar teriakan. Saat membuka pintu, dia sudah berada di depan rumah dan membantu saya keluar," ujarnya.

Kesaksian serupa juga disampaikan warga lainnya yang mengaku baru mengetahui keberadaan api setelah dibangunkan oleh Sugiyanto dan kepala desa.

Sugiyanto bukanlah pendatang baru di Korea Selatan.

Pria berusia 31 tahun tersebut telah bekerja sebagai pelaut dan nelayan selama sekitar delapan tahun.

Selama tinggal di Korea Selatan, ia dikenal aktif berinteraksi dengan masyarakat setempat dan menguasai bahasa Korea dengan baik.

Kemampuan berbahasa tersebut menjadi faktor penting yang membantunya berkomunikasi secara efektif saat proses evakuasi berlangsung.

Hubungan yang telah terjalin erat dengan warga desa membuat Sugiyanto dianggap sebagai bagian dari komunitas setempat.

Dalam keterangannya kepada media lokal, Sugiyanto mengaku tidak berpikir panjang ketika memutuskan membantu warga.

Baginya, masyarakat desa tempat ia bekerja sudah seperti keluarga sendiri.

"Saya sangat mencintai Korea. Warga di desa ini sudah seperti keluarga bagi saya," kata Sugiyanto.

Ia juga mengaku tidak terlalu mengingat detail peristiwa malam itu karena situasi yang sangat menegangkan.

"Saya terus berlari bersama kepala desa. Saya hanya berpikir bagaimana semua orang bisa selamat," ujarnya.

Di tengah perhatian publik yang semakin besar terhadap aksinya, Sugiyanto mengaku mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya di Indonesia.

Ia mengatakan istrinya menghubunginya setelah berita tersebut mulai ramai diberitakan.

Menurut Sugiyanto, keluarganya merasa bangga karena tindakannya dapat membantu menyelamatkan banyak orang.

"Istri saya menelepon dan mengatakan bahwa dia bangga. Saya juga bersyukur karena tidak ada warga yang terluka," katanya.

Sugiyanto diketahui memiliki seorang istri dan anak berusia lima tahun yang tinggal di Indonesia.

Keberhasilan evakuasi sekitar 60 warga tanpa korban jiwa membuat masyarakat Yeongdeok memberikan penghargaan moral yang tinggi kepada Sugiyanto.

Banyak warga menyebut dirinya sebagai sosok yang dapat diandalkan dan memiliki kepedulian luar biasa terhadap sesama.

"Kalau bukan karena Sugiyanto dan kepala desa, mungkin kami menghadapi bencana yang jauh lebih besar," ujar salah seorang warga.

Sebagian warga bahkan berharap Sugiyanto dapat terus tinggal dan bekerja di desa tersebut.

Kisah Sugiyanto juga menjadi gambaran positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Selama ini jutaan pekerja Indonesia berkontribusi dalam berbagai sektor di banyak negara, mulai dari manufaktur, perikanan, pertanian, hingga sektor jasa.

Aksi kemanusiaan yang dilakukan Sugiyanto menunjukkan bahwa pekerja migran tidak hanya berkontribusi secara ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat tempat mereka bekerja.

Pengamat hubungan internasional menilai kisah seperti ini memiliki nilai yang lebih besar dibanding sekadar tindakan heroik individu.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana solidaritas kemanusiaan dapat melampaui perbedaan kebangsaan, bahasa, maupun budaya.

Di tengah berbagai tantangan global, tindakan sederhana berupa keberanian membantu sesama justru menjadi simbol kuat hubungan antarmanusia.

Kisah Sugiyanto menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan sering kali muncul dari tindakan spontan yang dilakukan pada saat paling kritis.

Aksi heroik Sugiyanto saat kebakaran hutan melanda Yeongdeok, Korea Selatan, pada Selasa (25/3/2025) menjadi contoh nyata keberanian dan kepedulian tanpa batas. Bersama Kepala Desa Yoo Myeong-shin, nelayan asal Indonesia itu membantu menyelamatkan sekitar 60 warga dari ancaman kobaran api yang mendekati permukiman. Di tengah situasi darurat dan medan yang sulit, tindakan cepat mereka berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa. Kisah ini tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di mata masyarakat Korea Selatan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kemanusiaan tetap menjadi nilai universal yang mampu menyatukan siapa pun, di mana pun berada.

Baca Juga:
Tersalin 👍
Muhammad Rikhar Adriansyah
Muhammad Rikhar Adriansyah
Pemilik

Berita Terbaru

  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan
  • Sugiyanto WNI yang Menyelamatkan 60 Warga dari Kebakaran Hutan di Korea Selatan

Posting Komentar