Indonesia Jadi Ketua ASEAN 2023, KTT ke-42 Digelar di Labuan Bajo Usung Tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth
![]() |
| Indonesia Resmi Menjadi Tuan Rumah KTT ASEAN 2023 dengan Tema "ASEAN Matters: Epicentrum of Growth". ( Source: Kanal Youtube Sekretariat Kepresidenan) |
Labuan Bajo - Indonesia resmi memegang Keketuaan ASEAN sepanjang tahun 2023 setelah menerima estafet kepemimpinan dari Kamboja pada penutupan KTT ASEAN ke-40 dan ke-41 di Phnom Penh, Minggu (13/11/2022).
Dalam masa keketuaan tersebut, Indonesia mengusung tema “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth” yang menjadi arah utama kerja sama kawasan Asia Tenggara selama 2023. Tema tersebut menegaskan pentingnya ASEAN tetap relevan di tengah berbagai tantangan global sekaligus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Puncak agenda keketuaan Indonesia berlangsung melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-42 yang digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu dan Kamis (10-11/5/2023). Forum tersebut mempertemukan para pemimpin negara anggota ASEAN untuk membahas isu ekonomi, keamanan kawasan, transformasi digital, ketahanan pangan, energi, hingga stabilitas geopolitik regional.
Presiden Joko Widodo sebelumnya menerima palu keketuaan ASEAN dari Perdana Menteri Kamboja Hun Sen sebagai simbol Indonesia menjadi Ketua ASEAN 2023.
“Sebuah kehormatan bagi Indonesia menjadi Ketua ASEAN tahun 2023. Keketuaan Indonesia akan menjadikan ASEAN Matters: Epicentrum of Growth,” ujar Presiden Joko Widodo.
Pernyataan tersebut menjadi dasar arah diplomasi Indonesia selama memimpin ASEAN. Pemerintah menilai kawasan Asia Tenggara harus tetap menjadi kawasan yang stabil, terbuka, dan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Keketuaan Indonesia juga hadir pada periode yang tidak mudah. Dunia masih menghadapi dampak pemulihan pascapandemi, tekanan inflasi global, gangguan rantai pasok, serta meningkatnya rivalitas geopolitik di berbagai kawasan. Karena itu, Indonesia mendorong ASEAN agar tetap menjaga sentralitas kawasan dan tidak terjebak dalam konflik kepentingan kekuatan besar dunia.
Tema yang diusung Indonesia memiliki dua fokus utama yang saling berkaitan.
“ASEAN Matters” menegaskan bahwa ASEAN harus tetap penting, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman. Sementara “Epicentrum of Growth” menggambarkan tekad menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi global.
Pemerintah Indonesia menilai ASEAN memiliki modal besar untuk mencapai target tersebut. Kawasan ini dihuni lebih dari 600 juta penduduk dengan aktivitas perdagangan yang terus berkembang serta pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dibanding banyak kawasan lain di dunia.
Selain aspek ekonomi, tema tersebut juga mencerminkan upaya memperkuat ketahanan kawasan dalam menghadapi krisis global, termasuk isu pangan, energi, kesehatan, dan transformasi digital yang menjadi tantangan bersama negara-negara ASEAN.
Menjelang pelaksanaan KTT ASEAN ke-42, pemerintah melakukan berbagai persiapan mulai dari aspek keamanan, kesehatan, infrastruktur, hingga kesiapan lokasi pertemuan.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan penyelenggaraan KTT di Labuan Bajo.
“Baru saja Presiden memang memimpin pertemuan ratas dan mengecek semuanya secara detail, termasuk urusan yang terkait dengan masalah pengamanan, infrastruktur, kesehatan, dan sebagainya,” ujar Retno Marsudi.
Retno menjelaskan bahwa selama penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42, Presiden Jokowi dijadwalkan mengikuti delapan pertemuan penting yang sebagian besar dipimpin langsung oleh Indonesia sebagai ketua ASEAN.
Persiapan yang dilakukan pemerintah tidak hanya berfokus pada kelancaran agenda diplomatik, tetapi juga pada upaya memperkenalkan Labuan Bajo kepada dunia internasional. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat promosi pariwisata nasional sekaligus menunjukkan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah forum internasional berskala besar.
Indonesia membawa sejumlah prioritas utama selama memimpin ASEAN.
Beberapa fokus yang didorong antara lain penguatan ketahanan ekonomi kawasan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, transformasi ekonomi digital, ketahanan pangan, ketahanan energi, serta penguatan sistem kesehatan regional.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan bahwa keketuaan Indonesia tidak hanya berupaya membangun visi ASEAN ke depan, tetapi juga menghadirkan program konkret yang dapat dirasakan masyarakat.
“Selain mempersiapkan ASEAN menghadapi tantangan ke depan, maka ada visi post-2025,” kata Retno Marsudi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia ingin ASEAN tidak hanya menjadi forum diplomasi, tetapi juga mampu menghasilkan kebijakan nyata yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena kawasan ASEAN menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan teknologi, ketahanan ekonomi, hingga ancaman krisis global yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan.
Dalam pembukaan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya menjaga persatuan negara-negara ASEAN.
“ASEAN harus semakin kuat bagi episentrum pertumbuhan dunia, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan demokrasi serta menjaga hukum internasional dan tidak menjadi proxy siapapun,” ujar Presiden Jokowi.
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Indonesia yang mendorong ASEAN tetap independen di tengah meningkatnya persaingan global. Pemerintah memandang stabilitas kawasan menjadi syarat utama agar pertumbuhan ekonomi dan kerja sama regional dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Dalam dokumen pernyataan Ketua KTT ASEAN ke-42, para pemimpin ASEAN juga menegaskan kembali komitmen untuk menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas kawasan, serta menjunjung hukum internasional dan kerja sama multilateral.
KTT ASEAN ke-42 berlangsung di tengah berbagai tantangan internasional yang memengaruhi kawasan Asia Tenggara.
Isu krisis Myanmar, perdagangan manusia lintas negara, ketahanan pangan, keamanan energi, hingga dampak ketidakpastian ekonomi global menjadi bagian dari pembahasan para pemimpin ASEAN. Selain itu, ASEAN juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan sentralitas kawasan di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dunia.
Ketua Pusat Studi ASEAN Universitas Airlangga, Vinsensio Dugis, menilai tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth lahir dari kebutuhan ASEAN untuk menjawab berbagai persoalan kawasan yang semakin kompleks.
Menurutnya, isu perdagangan orang dan krisis Myanmar menjadi dua tantangan besar yang membutuhkan kerja sama nyata antarnegara ASEAN.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan ASEAN tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan regional secara bersama-sama.
Keketuaan Indonesia di ASEAN sepanjang 2023 menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai kawasan yang stabil, damai, dan memiliki daya saing global. Melalui tema “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth” serta penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada 10–11 Mei 2023, Indonesia berupaya mendorong penguatan kerja sama regional, transformasi ekonomi, ketahanan kawasan, dan pembangunan berkelanjutan agar ASEAN tetap menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia di masa depan.


Posting Komentar