Iran Diduga Tarik Biaya 2 Juta Dolar AS per Kapal di Selat Hormuz, Dunia Internasional Bereaksi
![]() |
| Iran Tarik Biaya 2 Juta Dolar AS per Kapal di Selat Hormuz |
sepintasnews.web.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan bahwa Iran mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz, kebijakan yang mulai mencuat dalam laporan internasional pada Senin (10/3/2026) di tengah eskalasi konflik kawasan. Langkah ini menjadi sorotan global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Laporan tersebut berasal dari pernyataan anggota parlemen Iran yang mengungkapkan adanya penerapan biaya transit bagi kapal tertentu. Namun hingga kini, kebijakan tersebut masih menuai perdebatan karena belum sepenuhnya dikonfirmasi sebagai aturan resmi negara.
Pernyataan terkait biaya 2 juta dolar AS per kapal disampaikan oleh seorang anggota parlemen Iran yang menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi pengelolaan wilayah maritim.
Kebijakan tersebut disebut tidak berlaku untuk semua kapal, melainkan hanya untuk kapal tertentu yang diizinkan melintas dalam situasi konflik.
“Pengambilan biaya transit dari kapal yang melintas mencerminkan kekuatan Iran dalam mengelola wilayahnya,” ujar Alaeddin Boroujerdi, anggota parlemen Iran.
Ia juga menilai kebijakan ini sebagai bentuk respons terhadap tekanan geopolitik yang meningkat.
Situasi di Selat Hormuz memburuk setelah konflik besar antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terjadi pada Jumat (28/2/2026), yang kemudian berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional.
Sejak saat itu, aktivitas kapal tanker dan kapal dagang mengalami penurunan signifikan karena meningkatnya risiko keamanan.
“Selat Hormuz adalah jalur energi paling strategis di dunia,” ujar Farid Rahman, analis keamanan maritim internasional.
Menurutnya, setiap gangguan di wilayah ini akan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Sejumlah laporan menyebut biaya 2 juta dolar AS tersebut lebih menyerupai praktik “biaya keamanan” dibandingkan tarif resmi negara. Beberapa kapal diduga membayar untuk memastikan perjalanan mereka tetap aman.
Namun mekanisme pembayaran ini tidak transparan dan belum dapat diverifikasi sepenuhnya oleh pihak independen.
“Beberapa kapal dilaporkan membayar hingga 2 juta dolar untuk menjamin keamanan,” ungkap laporan analis maritim internasional.
Hal ini menunjukkan adanya dinamika kompleks dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Iran melalui perwakilan diplomatiknya membantah adanya kebijakan resmi yang mewajibkan semua kapal membayar biaya tersebut.
Pihak Iran menyebut informasi tersebut sebagai kesalahpahaman yang berkembang di tengah situasi konflik.
“Kami menolak klaim bahwa Iran mengenakan biaya 2 juta dolar untuk setiap kapal,” ujar pernyataan resmi perwakilan Iran.
Pernyataan ini memperlihatkan adanya perbedaan narasi antara laporan lapangan dan sikap resmi pemerintah.
Iran diketahui menerapkan pendekatan selektif terhadap kapal yang diizinkan melintas di Selat Hormuz. Negara-negara yang dianggap tidak memusuhi Iran disebut memiliki akses lebih mudah.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi geopolitik Iran dalam menghadapi tekanan internasional.
“Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak untuk pihak yang memusuhi Iran,” ujar Ali Mousavi, perwakilan Iran di organisasi maritim internasional.
Langkah ini memperumit dinamika pelayaran global.
Krisis di Selat Hormuz langsung berdampak pada harga minyak dunia. Ketidakpastian yang muncul membuat pasar energi menjadi sangat fluktuatif.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah ini berdampak luas.
“Pasar energi sangat sensitif terhadap situasi di Selat Hormuz,” tegas Michael Tan, analis energi global.
Ia memperkirakan volatilitas harga minyak akan terus berlanjut.
Negara-negara yang bergantung pada impor energi mulai mengkhawatirkan dampak kebijakan Iran terhadap stabilitas pasokan global.
Sejumlah negara bahkan mulai mempertimbangkan jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
“Langkah Iran dapat mengubah peta perdagangan energi dunia,” ungkap Lina Putri, analis hubungan internasional.
Ia menilai situasi ini akan berdampak jangka panjang.
Selain biaya tinggi, risiko keamanan juga menjadi perhatian utama. Kapal-kapal menghadapi ancaman serangan maupun gangguan operasional di kawasan tersebut.
Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan hingga situasi membaik.
“Risiko keamanan saat ini menjadi faktor utama dalam keputusan pelayaran,” ujar Robert Hughes, analis industri pelayaran.
Hal ini semakin memperburuk rantai pasok global.
Laporan mengenai Iran yang mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS bagi kapal di Selat Hormuz menunjukkan meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan tersebut. Meski belum sepenuhnya dikonfirmasi sebagai kebijakan resmi, situasi ini telah memicu kekhawatiran global.
Dengan peran Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia, setiap perubahan kebijakan memiliki dampak besar terhadap ekonomi internasional. Dunia kini terus memantau perkembangan situasi sambil berharap stabilitas kawasan segera pulih.
