Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025

etua Federal Reserve Jerome Powell memberi sinyal pemangkasan suku bunga AS dalam waktu dekat. Pasar memperkirakan The Fed mulai memangkas suku bunga.

Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
Pemangkasan Suku Bunga The Fed (Foto: Jarmoluk)

Amerika Serikat - Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, memberikan sinyal kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat berpotensi memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat setelah mempertahankannya selama berbulan-bulan di level tinggi.

Pernyataan tersebut disampaikan Powell dalam simposium ekonomi tahunan Jackson Hole, Wyoming, Jumat (22/8/2025), sebuah forum yang selama ini menjadi perhatian investor global karena sering digunakan sebagai petunjuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Meski tidak menyebutkan tanggal pasti, pasar keuangan langsung menangkap sinyal bahwa siklus pelonggaran moneter kemungkinan akan segera dimulai.

Banyak analis memperkirakan pemangkasan pertama dapat terjadi pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September 2025.

The Fed terakhir kali memangkas suku bunga pada Desember 2024.

Sejak Januari 2025, suku bunga acuan dipertahankan pada kisaran 4,25–4,50 persen sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi tetap terkendali.

Namun kondisi ekonomi yang mulai menunjukkan perlambatan membuat ruang untuk pelonggaran kebijakan semakin terbuka.

"Kebijakan saat ini bersifat ketat, dan perubahan dalam prospek serta keseimbangan risiko mungkin memerlukan penyesuaian dalam kebijakan kami," ujar Jerome Powell.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal paling jelas dalam beberapa bulan terakhir bahwa The Fed mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Dalam pidatonya, Powell menyoroti kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang mulai kehilangan momentum.

Pertumbuhan lapangan kerja dinilai melambat baik dari sisi permintaan maupun pasokan tenaga kerja.

Menurut Powell, risiko pelemahan pasar kerja kini menjadi perhatian serius bagi para pembuat kebijakan.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko penurunan di sektor ketenagakerjaan semakin nyata. Jika risiko ini terjadi, kita dapat segera menyaksikan dampak berupa PHK massal dan kenaikan angka pengangguran," kata Powell.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa fokus The Fed kini tidak lagi hanya pada inflasi, tetapi juga mulai bergeser pada upaya menjaga stabilitas lapangan kerja.

Dalam kesempatan yang sama, Powell secara terbuka menyinggung dampak kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap kondisi perekonomian Amerika Serikat.

Ia menilai tarif impor yang lebih tinggi serta kebijakan imigrasi yang lebih ketat telah memengaruhi dinamika ekonomi nasional.

"Tahun ini, ekonomi menghadapi tantangan baru. Tarif yang lebih tinggi telah secara signifikan mengubah sistem global, dan kebijakan imigrasi yang lebih ketat berdampak pada pertumbuhan tenaga kerja," ujar Powell.

Komentar tersebut menjadi perhatian karena jarang sekali Ketua The Fed secara langsung mengaitkan kondisi ekonomi dengan kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa.

Pidato Powell juga menjadi respons tidak langsung terhadap tekanan politik yang terus datang dari Gedung Putih.

Dalam beberapa bulan terakhir, Presiden Donald Trump berulang kali meminta The Fed agar segera memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bahkan Trump beberapa kali melontarkan kritik keras kepada Powell.

Namun Powell menegaskan bahwa seluruh keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) akan tetap didasarkan pada data ekonomi dan bukan tekanan politik.

"Keputusan yang diambil oleh anggota FOMC akan didasarkan sepenuhnya pada analisis mereka terhadap data dan dampaknya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko. Kami tidak akan menyimpang dari pendekatan ini," tegas Powell.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai penegasan independensi bank sentral Amerika Serikat.

Pasar keuangan global merespons positif pidato Powell.

Sejumlah pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September meningkat signifikan setelah pidato tersebut.

Investor kini menantikan tiga pertemuan The Fed yang tersisa pada tahun 2025, yakni September, Oktober, dan Desember.

Pertanyaan terbesar bukan lagi apakah suku bunga akan dipangkas, melainkan berapa kali pemangkasan akan dilakukan hingga akhir tahun.

Pemangkasan suku bunga biasanya berdampak langsung terhadap berbagai instrumen keuangan global.

Apabila The Fed mulai memangkas suku bunga, dolar AS berpotensi mengalami pelemahan karena imbal hasil aset berbasis dolar menjadi lebih rendah.

Kondisi tersebut biasanya memberikan sentimen positif bagi harga emas yang selama ini bergerak berlawanan dengan kekuatan dolar.

Pasar saham global juga cenderung menyambut positif kebijakan suku bunga yang lebih rendah karena biaya pinjaman menjadi lebih murah bagi dunia usaha.

Bagi Indonesia, potensi pemangkasan suku bunga The Fed dapat memberikan sejumlah keuntungan.

Pertama, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berkurang apabila dolar AS melemah.

Kedua, arus modal asing dapat kembali masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia karena selisih imbal hasil menjadi lebih menarik.

Ketiga, biaya pembiayaan global bagi pemerintah dan perusahaan Indonesia berpotensi menurun.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai risiko inflasi global yang masih menjadi perhatian utama bank sentral dunia.

Dalam pidatonya, Powell juga menyinggung evaluasi strategi kebijakan moneter yang diterapkan sejak 2020.

Ia mengakui bahwa pendekatan yang memberi ruang inflasi bergerak di atas target dalam periode tertentu tidak menghasilkan hasil seperti yang diharapkan.

Faktanya, inflasi justru melonjak ke level tertinggi dalam empat dekade terakhir setelah pandemi Covid-19.

Meskipun demikian, The Fed menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen.

"Kami percaya bahwa komitmen kami terhadap target ini sangat penting untuk menjaga stabilitas ekspektasi inflasi jangka panjang," tutup Powell.

Sinyal pelonggaran kebijakan moneter yang disampaikan Jerome Powell menjadi salah satu perkembangan ekonomi global paling penting tahun ini. Di tengah perlambatan pasar tenaga kerja, tekanan politik dari Presiden Donald Trump, dan ketidakpastian akibat perang tarif, The Fed mulai membuka peluang untuk menurunkan suku bunga setelah mempertahankannya di level tinggi sejak awal 2025.

Bagi pasar global, langkah tersebut berpotensi menjadi titik balik yang memengaruhi pergerakan dolar AS, harga emas, pasar saham, hingga arus investasi internasional. Sementara bagi Indonesia, peluang pemangkasan suku bunga The Fed dapat menjadi sentimen positif yang membantu menjaga stabilitas rupiah dan meningkatkan minat investor terhadap aset domestik.

Baca Juga:
Tersalin 👍
Muhammad Rikhar Adriansyah
Muhammad Rikhar Adriansyah
Pemilik

Berita Terbaru

  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025
  • Jerome Powell Beri Sinyal The Fed Segera Pangkas Suku Bunga, Pasar Optimistis Pemotongan Dimulai September 2025

Posting Komentar